24.9.09

Orang Sunda Payah. Stigma atau Realita?

Tulisan ini terinspirasi dari dua obrolan dalam perjalanan ke Purwakarta dan Bandung 2 minggu yang lalu. Di Purwakarta bareng keluarga besar sedangkan obrolan kedua bersama kawan-kawan semasa kuliah di Bandung. Entah kenapa ada benang merahnya. Kaitannya dengan kualitas pribadi yang umumnya dimiliki oleh orang Sunda. Hmm, ini penting dan perlu rasanya diungkit-ungkit dan dibagi-bagi. Mungkin ada perspektif baru dari kawan-kawan yang lain?

Sunda dan Kepemimpinan Nasional
Orang Sunda jadi presiden? belum pernah ada. Jendral yang berasal dari orang sunda? Hmm, paling Agung Gumelar. Nah, orang sunda jadi Menteri.. Hummm, Seingat saya hanya Yogie S Memet dan Ginanjar Kartasasmita aja.. Kursi Presiden, Jendral, dan Menteri tentunya didominasi oleh orang-orang Jawa. Tapi Sunda patut bangga. 3 presiden kita dididik di tanah Sunda. Soekarno, Habibie, setidaknya dididik di ITB dan Megawati di Unpad (katanya DO). Meski mungkin kebanggaan itu kemudian kandas.. Mengingat Dosen dan Mahasiswa ITB dipenuhi oleh orang Jawa lagi.. ha..ha..

Bicara soal militer, menarik rasanya untuk membagi kisah obrolan saya dengan beberapa kawan semasa kuliah di Bandung. Obrolan mengupas perihal studi komparasi (supaya keren bahasanya) strategi perang yang dijalankan pada Serangan Umum Sebelas Maret dan Bandung Lautan Api. Pada Serangan Umum Sebelas maret, strategi perang dijalankan dengan sangat sistematis. Seperti yang pernah saya saksikan di salah satu acara TV yang mengupas soal strategi ini, Sebelas Maret adalah sebuah strategi yang rumit, sistematis, dan cerdas. Alhasil, Belanda mampu dilumpuhkan dan titik-titik strategi kota mampu dikuasai kembali. Hummm, membandingkannya dengan strategi Bandung Lautan Api, dengan sedikit becanda, obrolan coba mengilustrasikan apa yang ada dipikiran para pejuang di Bandung dulu. Begini mungkin "Geus ah rarudet.. arindit weh kabeh ti Bandung, geus kitu Bandung urang DURUK weh lah! ambeh Walanda kabeh paeh".. dan tawapun membahana.. (sedikit catatan, ini adalah analisa singkat yang mungkin kurang valid.. :P)

Cewek Sunda Bisanya Dandan Doang
Humm.. Isu tak bertanggungjawab dan sangat tidak terpelajar ini sungguh masih banyak yang percaya. Khususnya kalangan Jawa dan beberapa di daerah Sumatera. Tentunya ini pandangan yang sama sekali primitif. Tapi meski begitu rasanya ini perlu ditelaah juga mengapa pandangan seperti ini ada. Katanya, cewek Sunda yang terkenal cantik-cantik ini kurang telaten dalam mengurusi urusan rumah tangga. Mereka kurang mahir untuk urusan dapur dan sumur (gak berani bahas soal kasur.. heu heu..). Cewek Sunda juga kurang pandai dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Kalau dandan suka berlebihan. Bukti empirisnya coba lihat aja kalau mereka datang ke acara yang rada formal semisal nikahan atau arisan ibu-ibu pejabat. Kurang puas, katanya lagi cewek-cewek Sunda itu rata-rata matre dan gak becus ngatur keuangan keluarga...

Humm.. keji ya? Daripada capek-capek, sebaiknya saya menepis anggapan2 ini sebagai pandangan yang muncul oleh karena iri dengki bahwa perempuan2 Sunda memang cantik-cantik. heu heu.. ada yang punya pendapat lain?

Cowok Sunda Doyan Kawin
Ini begitu menyinggung hati saya yang sunda asli. Beberapa pendapat soal poligami seringkali menyudutkan para lelaki sunda. Kasus AA Gym mungkin itu adalah pembenaran bagi orang-orang yang berpendapat demikian. Umumnya pendapat ini berpandangan bahwa lelaki sunda tidak setia terhadap pasangan. Kemudian umumnya mereka tidak memiliki jiwa struggle seperti yang dimiliki oleh orang-orang Sumatera atau Jawa. Lelaki Sunda katanya pemalas...

Humm.. Saya pernah diceritakan oleh teman saya yang juga orang Sunda. Ketika itu dia sedang melakukan riset di Papua. Dia cerita.. Pernah ada obrolan dengan salah satu penduduk disana yang bercerita ketika dia tahu kalau teman saya ini adalah orang Sunda. Katanya, "Kami orang Papua menganggap orang Sunda seperti saudara. Kenapa? karena Suku Papua dan suku Sunda suka diejek sebagai suku para pemalas dan ejekan itu sama-sama datang dari orang-orang Jawa" hua ha ha ha.. *tertawa sambil merenung*

Ah, pandangan-pandangan ini rasanya sangat rasial. Sekedar mencoba menepis anggapan soal cowok sunda yang doyan kawin, sebaiknya juga kita tidak melupakan Soekarno yang istrinya dimana-mana, Syekh Puji serta sebagian 'ulama' jawa, dan Bosnya wong Solo. Atau mungkin Anda bisa lihat kabar menarik soal poligami di sini. Ha ha ha..

Tapi kawan, tentunya pandangan2 negatif diatas memang primitif. Pada jaman sekarang dimana pendidikan adalah sesuatu yang mampu mencetak watak manusia seutuhnya, rasanya pandangan2 miring tadi diatas sudah seharusnya kita tinggalkan. Isu-isu rasis seperti ini harusnya kita enyahkan karena akan sangat menganggu relasi antar sesama. Kasus terkini seperti pernyataan Andi Malarangeng soal suku Bugis, itu adalah pernyataan primitif dan menyulut emosi suku lain. Itu adalah pernyataan yang sangat sangat sangat destruktif. Janganlah memprimitifkan diri dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan primitif dengan mendiskreditkan satu suku.

Sedikit catatan, tulisan ini dibuat dalam kondisi badan setengah meriang, pandangan mata tak normal, hidung meler, tenggorokan meradang, dan diselingi bersin-bersin. Selain itu, memang saya sedang tidak ada kerjaan.. ha ha.. Jadi, mohon tidak dinilai sebagai tulisan ilmiah. Tapi, rasanya akan menarik bila kawan2 sunda maupun non-sunda memberikan perspektif lain yang lebih ilmiah tentang kualitas SDM orang Sunda.. Saya tunggu komentar kawan2 ya.. sekian..

10.2.09

What's Your Hardest Part?


Menerima sebuah 'kekalahan' itu lebih sulit ketimbang memamerkan 'kemenangan'. Ketika kita terjepit pada realita hidup yang menyulitkan, kadang kita menginginkan untuk berlari menghindar. Diam dan biarkan semua berlalu...

Setiap manusia pasti memiliki masa-masa sulit. Kisah cinta yang kandas, perselisihan dengan kawan, utang-piutang, perselingkuhan, bisnis yang tidak berjalan mulus, dll. Di satu sisi kita merasa telah memberikan yang terbaik dari setiap upaya kita, tapi kenyataan malah bertolak belakang dengan harapan kita.

Tetap berprasangka baik pada iradat Tuhan, itu saja yang baiknya kita lakukan. Bahwa segala sesuatu terjadi pastilah beralasan. Manis atau pahit, itu tanda sayang dari Tuhan.

I just want to tell to you something hard for me lately. My parents already divorce now.. 

Bagaimana dengan kamu? What's your hardest part? Berani berbagi? Jangan sungkan untuk klik comment dibawah ini, dan mari kita berbagi kisah..

Tulisan ini saya buat juga di notes facebook. Ada 33 komentar disana. Terima kasih buat kawan-kawan yang sudah memberikan komentarnya.

23.12.08

If Oil is Money, Then Water is?

Pertanyaan ini saya buat sendiri setelah nonton film The Godfather (Part III). Di salah satu adegan film itu terdapat ucapan Sang Godfather, Michael Corleone: "Money.. friend.. oil.. water.." Maksudnya jelas sekali, bahwa hubungan uang dan teman itu ibarat minyak dan air. Dua hal yang tidak dapat bersatu.  

Tahun 2008 buat saya adalah tahun yang penuh dengan kejadian seputar bisnis dan teman. Kejadian demi kejadian mengusik pemahaman saya bahwa bisnis yang dibangun atas dasar pertemanan adalah baik. Tentunya saya tidak serta merta menyepakati prinsip 'Money-Friend-Oil-Water' tadi. Sekedar penasaran ingin mengupas hal ini sebagai bahan salah satu resolusi menyambut 2009. Rasanya menarik kalau saya minta pendapat dari banyak orang. Ada pendapat dari teman-teman?
Please feel free to comment..

11.12.08

OUTLIERS: Merekonstruksi Pemahaman Bagaimana Kesuksesan Diraih

'Kesuksesan diraih oleh individu yang memiliki kemauan, kerja keras dan keunggulan’. Pendapat ini gak sepenuhnya benar. Malcolm Gladwell memberikan pandangan baru yang lebih luas tentang bagaimana kesuksesan diraih dalam karya buku terbarunya, Outliers.

Jika ingin memahami bagaimana dan mengapa seseorang dapat sukses, baiknya kita perhatikan dengan seksama hal-hal yang mengitarinya. Mungkin akan terdengar klise jika hal-hal tersebut adalah latar keluarga atau lingkungan. Secara mengejutkan, Gladwell berpendapat bahwa baiknya kita juga memperhatikan tempat lahir atau bahkan tanggal lahir. Tanggal lahir? Masa sih? Ya, dalam beberapa hal kita memang dapat dikejutkan oleh argumentasi Gladwell dalam Outliers. Tapi Gladwell memaparkan hal yang mengejutkan tadi secara ilmiah, kuantitatif, dan beralasan.

Outliers sebenarnya sudah lama di bahas di blog–nya Gladwell. Dari dulu gatel pengen baca. Baru aja beres baca lima bab, rasanya jari-jari ini dah gak sabar pengen ngulas Outliers ini di blog gw. Dalam posting kali ini gw coba paparin hal yang umum dulu. Ntar di posting-posting berikutnya baru deh dibahas tiap bab-nya. InsyaAllah.

Outliers terbagi ke dalam dua bagian, Opportunity dan Legacy. Masing-masing bagian terdiri dari 5 Bab. Gaya pemaparan Outliers banyak menggunakan studi kasus dengan gaya ‘bercerita’. Gaya ini memudahkan kita menyelusup masuk memahami substansi dari tiap argumentasi Gladwell. Gaya penulisan khas Gladwell ini juga terdapat dalam karya sebelumnya, The Tipping Point dan Blink. Kisah tentang Bill Joy, Bill Gates, Chris Langan (manusia dengan IQ tertinggi di dunia, 195!), hingga The Beatless banyak mewarnai buku ini. Untuk memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan Outliers, Gladwell memberikan bab khusus di awal, The Rosseto Mystery.

The Rosseto Mystery

The Rosseto Mystery adalah tentang keganjilan di bidang kesehatan yang terjadi di salah satu bagian wilayah di Pennsylvania bernama Rosseto. Rosseto awalnya didirikan oleh kelompok imigran asal Itali yang hijrah ke Amerika tahun 1882. Hingga pada tahun 1950-an, seorang physician bernama Stewart Wolf menemukan fakta mengejutkan. Di Rosseto sangat jarang ditemukan warga berumur di bawah 65 tahun memiliki penyakit jantung. Hal ini mengejutkan mengingat kala itu penyakit jantung merupakan epidemi di Amerika.

Wolf dengan serius mengadakan penelitian mendalam tentang ini. Kesimpulan penelitian awal Wolf adalah tidak ada satu pun orang di Rosseto meninggal akibat serangan jantung atau terdiagnosis berpenyakit jantung. Wolf semakin tertarik mendalami Rosseto dengan mengajak kolega-nya bernama John Bruhn, seorang sosiolog.

Temuan Bruhn lebih menarik. Di Rosseto, Bruhn tidak menemukan kasus bunuh diri, tidak ada alcoholism, tidak ada kasus penyalahgunaan narkoba, tingkat kejahatan sangat rendah sekali, dan yang lebih menarik adalah warga Rosseto hampir semuanya meninggal dunia dalam usia tua.

Wolf memberikan istilah khusus pada kasus Rosseto. Sebuah istilah yang dikenakan untuk sebuah tempat diluar batas kewajaran. Sebuah tempat dimana normalitas tidak berlaku. Istilah itu adalah Outlier. Ya, Rosseto adalah Outlier. Sebuah keganjilan.

Wolf terus mengadakan penelitian tingkat lanjut. Mengapa fenomena ini dapat terjadi? Semua asumsi awal Wolf patah ketika dia menemukan bahwa pola makan orang Rosseto sama sekali tidak mencerminkan pola makan yang sehat. Wolf menemukan 41 persen kalori yang mereka makan berasal dari lemak. Orang Rosseto juga umumnya perokok aktif dan banyak diantara mereka memiliki masalah dengan obesitas.

Genetik? Wolf menyusuri seluruh sanak keluarga orang Rosseto yang tersebar di luar wilayah Rosseto. Secara khusus pula mengadakan penelitian di kawasan Nazareth. Disana banyak terdapat sanak keluarga dari warga Rosseto. Hal mengejutkan kembali terulang. Di Nazareth untuk laki-laki berumur lebih dari 65 tahun, kematian sebagian besar disebabkan oleh penyakit jantung. Asumsi bahwa hal ini terjadi karena faktor genetik patah oleh data itu.

Rosseto benar-benar sebuah misteri.

Akhirnya Wolf dan Bruhn sadar bahwa yang menyebabkan keganjilan ini adalah budaya Rosseto itu sendiri. Bukan karena pola makan, bukan pula pola hidup, atau juga bukan karena genetik. Dari penemuan Wolf dan Bruhn, terdapat banyak ciri yang mencolok dalam kultur sosial yang ada di Rosseto. Di Rosseto sangat umum ditemukan dalam satu rumah didiami hingga tiga generasi. Generasi muda Rosseto amat menghormati generasi yang lebih tua. Orang Rosseto senang saling mengunjungi satu sama lain, senang bertegur sapa dalam bahasa itali, dan senang berbagi makanan dengan tetangga. Berbeda dengan aktifitas sosial kebanyakan wilayah di Amerika lainnya. Lingkungan Rosseto yang didiami kurang dari dua ribu penduduk ini secara sosial sungguh harmonis.

Temuan Wolf dan Bruhn ini menggemparkan dunia kesehatan. Ide konvensional tentang kesehatan umumnya selalu menyoroti faktor individu saja. Bagaimana dia memilih makanan, bagaimana pola hidup kesehariannya, darimana asal genetiknya, dll.

Wolf dan Bruhn memberikan sudut pandang baru dan berbeda tentang kesehatan. Kita seharusnya tidak melulu fokus memperhatikan pada aspek individu. Mempertimbangkan kesehatan seseorang dari aspek bagaimana bentuk lingkungan sosialnya adalah sudut pandang baru dan patut. Siapa saja keluarga dan teman mereka? dari kota mana mereka berasal?

Dalam Outliers, Gladwell berusaha memaparkan pemahaman yang benar tentang kesuksesan sebagaimana Stewart Wolf menjelaskan pemahaman tentang kesehatan.

Outliers tidak menceritakan sebuah pohon kokoh yang menjulang tinggi di antara luasnya hutan. Outliers menceritakan bagaimana hutan membentuk kondisi ideal sehingga si pohon dapat berdiri kokoh nan gagah.

It’s a marvelous book to read!

(Photo illustration by John Kehe/Staff)

30.11.08

The Gurus: Influential Business Thinkers


Pada tahun 1954, ilmu tentang manajemen mulai populer bersamaan dengan munculnya buku ‘The Practice of Management’ yang ditulis oleh Peter Drucker. Sejak itu, ilmu manajemen telah menjadi panduan kita dalam menjalankan hampir semua bidang pekerjaan. Business thinker seperti Drucker inilah yang menginspirasi banyak orang dalam menjalankan suatu bidang pekerjaan. Para business thinker telah menjadi guru bagi para pelaku bisnis. Mereka telah menginspirasi kita tentang inovasi, motivasi dan kompetisi global.

Pada bulan mei 2008, The Wall Street Journal telah merilis ranking para business thinkers kelas dunia. Penentuan ranking ditentukan berdasarkan Google hits, Lexis-Nexis, dan academic citations. Ranking ini menempatkan 20 Gurus yang sebagian besar adalah para psikolog, jurnalis, dan praktisi bisnis. Ranking ini dapat sedikit membantu kita untuk menentukan tingkat popularitas business thinkers. Dengan rangking ini mungkin kita dapat lebih selektif dalam menyerap suatu pemikiran bisnis. Tapi tentunya cocok-cocokan aja, karena style setiap orang beda.

Berikut adalah Top 20 Business Thinkers Versi The Wall Street Journal pada bulan mei 2008 :

Lebih lanjut tentang Top 5 business thinkers. 

Top 5 Business Thinkers diduduki oleh Gary Hamel, Thomas Friedman, Bill Gates, Malcolm Gladwell, dan Howard Gardner. Yuk.. kita bahas satu-satu..

Gary Hamel

Gary Hamel pernah bekerja selama satu tahun sebagai administratur pada sebuah rumah sakit setelah menyelesaikan master business administration-nya. Namun dia tersadar bahwa dia tidak menemukan kecocokan berperan sebagai praktisi. Dia merasa lebih cocok menjadi seorang pemikir tentang manajemen. 

Hamel mendapatkan gelar doktoralnya di University of Michigan, dimana dia bertemu dengan Profesor C.K. Prahalad (yang mendapatkan top position the best business thinkers 2007 versi CNN). Pada tahun 2004 pasangan Hamel dan Prahalad menerbitkan buku 'Competing for The Future', yang menempatkan Hamel sebagai superguru di mata publik. Kini, untuk mengundang Hamel menjadi pembicara harus merogoh kocek sebesar $50,000 hingga $100.000. Wew!

Kekuatan Hamel terdapat pada  pengaruhnya dalam memprovokasi para pebisnis tentang bagaimana seharusnya para pebisnis menentukan mindset-nya. Buku-buku hasil karyanya adalah 'Leading the Revolution' (2000) dan 'The Future of Management' (2007).

Thomas L. Freidman

Kolumnis The New York Times (TNYT) berusia 54 tahun ini pernah memenangkan Pulitzer Prize. Buku hasil karyanya adalah 'The World is Flat' (2005) dan 'The Lexus and the Olive Tree' (1999). The 'The World is Flat' menggambarkan tentang kompetisi global yang dipengaruhi oleh perubahan teknologi, khususnya bagi negara berkembang.

Freidman memulai karirnya jurnalis-nya sebagai koresponden internasional pada United Press International dan akhirnya bekerja pada TNYT sejak 1981. Buku-bukunya banyak membantu para pelaku bisnis mamahami arus perubahan kompetisi serba-cepat. Berdasarkan Nielsen BookScan, 'The World is Flat' terjual lebih dari 2 juta copy.

Agustus 2008 kemaren telah terbit bukunya yang baru berjudul 'Hot, Flat and Crowded'.

Bill Gates

Bill Gates satu-satunya top 5 business thinkers dari kalangan praktisi. Tahun 1975, sebelum menyelesaikan gelar bachelor-nya dari Harvard, dia keluar dan mendirikan Microsoft bersama 'kawan-sejak-remaja'-nya, Paul Allen. Inisiatif ini menuai sukses besar sejak pada tanggal 10 November 1983, mereka secara resmi memperkenalkan Microsoft Windows, sebuah piranti operating system yang merubah dunia.

Pengaruh-pengaruhnya dapat kita tuai lewat buku-buku hasil karyanya, diantaranya: 'The Road A head' yang menggambarkan pandangannya tentang dunia yang terhubung dengan internet. Buku ini berdasarkan pada presmisnya yang menyatakan bawwa kehidupan akan tertransformasikan oleh convergence of inexpensive computing and inexpensive communications. Buku kedua adalah 'Inside Out' yang disuguhkan pada ulang tahun Microsoft ke-25. Buku terakhir yang ia tulis adalah 'Business @ The Speed of Thought'.

Malcolm Gladwell

Malcolm Gladwell telah menjadi penulis pada The New Yorker sejak 1996. Pada tahun 2005 dia dinobatkan sebagai 100 most influential People oleh Time Magazine. Buku-buku yang dilahirkan dari tangannya terkenal sebagai karya yang fenomenal. Buku yang ia tulis adalah 'Tipping Point' dan 'Blink' dimana kedua buku ini mencetak New York Times Bestsellers. Pada pertengahan tahun 2008 ini, Gladwell telah menerbitkan buku terbarunya berjudul 'The Outliers'.

Kekuatan karya tulis Gladwell terletak pada kedalaman pikiran dengan penyuguhannya yang mudah dicerna, namun tetap mampu memperlihatkan substansinya. Blink-nya telah berhasil memaparkan kepada kita tentang bagaimana keputusan cepat diambil berdasarkan intuisi. Tipping Point-nya berhasil memaparkan fenomena epidemi sosial yang dapat diaplikasikan kedalam praktek-praktek bisnis. Terakhir, The Outliers-nya menjelaskan dengan sangat fasih tentang bagaimana kesuksean terjadi. Kritik dia terhadap kebanyakan literatur ketika mengemukakan kesuksesan seseorang terlalu fokus kepada individunya dengan berbagai bumbu-bumbu romantisme. Dalam The Outliers dia tidak hanya memaparkan sebuah 'satu pohon yang menjulang tinggi' saja, akan tetapi juga keseluruhan 'hutannya'. Tak salah rasanya menempatkan dia sebagai Guru paling berpengaruh pada dunia bisnis. 

Howard Gardner

Karyanya yang paling fenomenal adalah Multiple Intelligences. Lewat karya ini dia mengemukakan sebuah teori bahwa dalam diri manusia terdapat banyak tipe-tipe intelegensia yang berbeda-beda. Karenanya setiap manusia memiliki tipikal yang unik. Teori ini menggebrak sejak diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul "Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences." pada tahun 1983.

Gardner yang kini berusia 64 tahun adalah seorang profesor di bidang psikologi di Harvard. Sebelumnya dia tidak terlalu concern pada isu bisnis. Sampai pada tahun 1996 untuk pertama kalinya dia berbicara pada World Economic Forum. Setelah itu dia menemukan ketertarikan untuk concern pada isu bisnis. Hal ini yang mengantarkannya pada tahun 2004 untuk menerbitkan buku tentang persuasi yang berjudul 'Changing Minds'.

Buku terakhir yang ia tulis adalah 'Responsibility at Work'. Sebuah kumpulan essay yang memaparkan tentang bagaimana mewujudkan lingkungan kerja yang lebih etis dan bertanggungjawab.

Sumber gambar diambil dari situs online.wsj.com

27.11.08

Ted Turner: Jeli Menangkap Peluang, Piawai Mencipta Nilai

Dalam posting kali ini gw ingin memunculkan kisah Ted Turner dalam menangkap peluang demi peluang untuk menciptakan nilai-nilai baru bagi bisnisnya. Banyak yang berpendapat keunggulan dari seorang entrepreneur tuh terdapat pada kejelian dia dalam menangkap peluang. Turner telah mampu melihat sesuatu sebagai peluang ketika orang lain tak menyadarinya atau malah melihatnya tampak sebagai resiko besar. Mari kita selami kisahnya.

Ted Turner terkenal sebagai raja bisnis media tingkat dunia. Gw coba rangkai kisahnya dalam 3 bagian; UHF, TV Kabel, dan CNN.

Ted Turner dan Stasiun UHF

Banyak kawan-kawannya yang berpandangan skeptis bahkan melarangnya ketika pada tahun 1970 Turner memutuskan untuk membeli stasiun televisi UHF Atalanta yang hendak bangkrut bernama WTCG. Kala itu televisi UHF masih sangat jarang dipakai oleh kebanyakan warga Amerika (pada masa itu untuk menangkap sinyal UHF diperlukan antena khusus yang di pasang di atas televisi). Semua kolega serta orang yang bekerja pada stasiun itu berpandangan bahwa perusahaan itu akan mengalami kebangkrutan.

Ted Turner rupanya berpandangan bahwa seiring waktu sebuah lisensi televisi akan meningkat nilainya, meskipun pada saat dia membelinya perusahaan tersebut dalam keadaan buruk. Jadi, tugas Turner adalah bagaimana caranya ia mampu menciptakan nilai baru bagi perusahaan tersebut yang semula seperti sudah hampir menemukan ajalnya.

Pada tahun 1973, tiga tahun setelah dia mengakuisisi perusahaan tersebut, ia malah menghasilkan satu juta dollar setahun. Sebuah nilai yang cukup besar pada waktu itu. Semua orang yang semula berpandangan skeptis pun berbalik mengagumi kejeniusan dia dalam menciptakan nilai.

Apa yang ia lakukan dengan WTCG? Ted Turner rupanya memiliki penciuman yang tajam tentang apa yang diinginkan dan disukai oleh publik. Dia memprogram stasiun itu sendiri dengan mengkombinasikan acara kartun, film hitam-putih lama, memutar serial tahun 1950-an seperti Leave it To Beaver dan Lassie, gulat profesional dan pertandingan bisbol Atlanta Braves. Hasilnya.. Voila! kombinasi program acara tersebut berhasil meraih 15% audiens, sebuah pencapaian yang cukup tinggi untuk sebuah stasiun UHF kala itu.

Uniknya Turner dalam meracik produk program tv-nya tidak bersandarkan pada riset pasar. Hampir semua genius-kreatif bisnis seperti ini, tidak begitu saja percaya pada riset pasar. Bagi Turner pengetahuan tentang ini bersifat intuitif. Ted memilki koneksi dengan banyak orang. Orang-orang pulang ke rumah, duduk santai, dan menyalakan televisi. Itu saja asumsi awal dia.

Turner telah mengambil satu jalan ketika banyak yang berpandangan skeptis. Dia adalah seorang risk-taker. Dia percaya pada kemampuan dirinya dalam meningkatkan nilai. Orang seperti ini dapat mengambil keputusan yang membuat kebanyakan orang merasa ngeri. Namun tipikal orang seperti ini malah tidak gentar, karena mereka memiliki alasan kuat untuk itu. Keputusan seperti ini dia lanjutkan dengan mengembangkan bisnis medianya dengan konsep TV kabel.

Ted Turner dan TV Kabel
Pada tahun 1976 enam tahun setelah dia menjalankan stasiun UHF-nya. Turner menemukan sebuah artikel pada sebuah majalah bahwa HBO telah menggunakan satelit SATCOM II milik RCA. SATCOMM II adalah sebuah antena di ruang angkasa. Sinyal televisi dipancarkan ke satelit dan disiarkan kembali ke pesawat-pesawat penerima di bumi. Teknologi ini terhitung baru pada tahun itu.

Sebelum satelit SATCOM II ada, televisi kabel adalah cara penduduk luar-kota menerima sinyal televisi. Menara-menara pemancar tinggi dari bukit ke bukit dipasang hingga sinyalnya sampai pada sebuah perusahaan televisi kabel di sebuah wilayah luar-kota. Perusahaan kabel ini lah yang menyambungkan sinyal ini melalui kabel dari rumah ke rumah di pinggiran kota.

Kejeniusan Turner dalan berbisnis kembali dibuktikan. Baginya ini merupakan peluang untuk memperbesar jangkauan stasiun UHF milikya, WTCG. Dalam pikirannya, setelah satelit SATCOM II ini berarti perusahaan televisi kabel tidak lagi memerlukan menara-menara pemancar tadi untuk menyambungkan sinyal televisi. Sebuah stasiun dapat memperluas jangkauan audiensnya dengan teknologi SATCOMM II ini.

Keputusan Turner kembali mengundang kekhawatiran. Ini merupakan ide yang berani karena pada masa itu masih sedikit sistem kabel yang memiliki peralatan untuk menerima sinyal dari satelit ke bumi dan sangat sedikit pemancara yang memancarkan sinyal-sinyal itu ke atas. Penyewaan jangka panjang satelit SATCOMM II itu nilainya jutaan dollar. Langkah ini juga mengundang kontroversi karena akan merubah secara revolusioner pola distribusi sinyal televisi. Langkahnya akan mengganggu status-quo bagi bisnis media di Amerika.

Konsepnya ternyata berjalan sukses. Televisi kabel tidak lagi berfungsi sebagai cara orang-orang di Amerika untuk mendapatkan sinyal televisi. Tetapi menjadi cara untuk mendapatkan tontonan lebih banyak daripada yang diberikan oleh jaringan televisi biasa. Orang-orang di Amerika menyukai stasiun Turner. Perusahaan-perusahaan tv kabel mendapatkan pendapatan dengan menarik bayaran dari pelanggannya. Turner mendapatkan pendapatan yang sangat besar dari iklan yang menjangkau seluruh publik Amerika, tidak hanya Atalanta. Ide brilian tengah berjalan sesuai harapan.

Ini merupakan satu langkah yang impressif bagi bisnis Ted Turner. Ketika sebelumnya dia hanya memiliki sebuah bisnis stasiun UHF yang menjangkau wilayah Atlanta saja, kini dengan ide bisnis-nya dia telah tampil sebagai pebisnis yang mulai diperhitungkan di seluruh penjuru Amerika. Ide brilian itu kemudian dia lanjutkan dengan meluncurkan sebuah stasiun berita internasional 24 jam bernama CNN.

Ted Turner dan CNN
CNN mengubah dunia. Peristiwa-peristiwa tingkat dunia yang sedang terjadi dihidangkan langsung di tengah ruang keluarga Amerika. Belum ada yang berani menjalankan konsep berita internasional 24 jam.

Keputusan Turner menampilkan berita internasional 24 jam adalah fenomenal. Menghentak industri media. Kala itu tidak ada yang berani mengambil keputusan serupa meski itu perusahaan-perusahaan dengan puluhan kali lipat aset Turner. Tidak ada yang tahu persis sebesar apa audiens yang akan digiring ke dalam stasiun berita 24 jam seperti itu. Berapa biaya operasional untuk memastikan model bisnis ini dapat berjalan dengan baik? Berapa kisaran potensi pendapatan iklan? Yang mengkhawatirkan semua koleganya adalah bahwa untuk membangun CNN Turner menjaminkan uang pribadinya. Dia bisa saja kehilangan segalanya karena keputusannya ini. Namun kini bukti mengatakan CNN telah mencetak sukses besar.

Apa yang memicunya untuk mengambil keputusan ini? Ada yang berpendapat bahwa dia sudah terlanjur kesempatan untuk memperoleh hak menempati tempat terakhir di satelit SATCOMM II. To be or not to be. Dia harus memastikan bahwa dia akan benar-benar menggunakan slot di SATCOMM II atau dia akan kehilangan kesempatan itu. Jadi diawal sebelum CNN belum benar-benar ada, dia menyatakan bahwa dia akan menggunakan slot di SATCOMM II untuk CNN.

Kembali dengan keputusannya kali ini dia mencetak prestasi gemilang. CNN pada masa-masa awal mengisi ruang-ruang keluarga Amerika. Kini CNN telah memasuki ruang-ruang di seluruh dunia untuk menghadirkan berita-berita internasional sepanjang waktu.

Ted Turner telah mampu membuktikan kapasitas dia dalam menciptakan setiap nilai baru bagi bisnisnya. Keunggulan dia terletak pada kejeliannya dalam menangkap peluang demi peluang, mampu melihat masa depan, mengetahui apa yang diinginkan publik, mengambil resiko-resiko besar untuk meningkatkan nilai, dan yang tak kalah penting adalah Turner mampu mewujudkan ide-ide besarnya menjadi kenyataan. Tidak hanya ide yang bersarang di kepala.

12.11.08

Outliers : The Story of Success (by Malcolm Gladwell)

Sudah kutunggu sejak lama, akhirnya terbit juga nih buku. Gladwell sudah lama sounding tentang buku ini di blog dia . Buku ini bercerita tentang bagaimana kesuksesan di raih, hal apa saja yang turut memunculkan seseorang meraih kesuksesan dan kenapa beberapa diantara kita tidak dapat meraihnya. Gagasan yang menarik perhatianku sebenarnya adalah mengenai kritik dia terhadap mitos bahwa kesuksesan dalam suatu bisnis lebih disebabkan oleh kekuatan personal dari seorang entrepreneur. Gladwell membahas hal ini dengan mengambil kasus kesuksesan Bill Gates.

Kedalaman pikiran yang dia curahkan dalam buku-bukunya memang menjadi kekuatan utama. Blink danTipping Point adalah buktinya. Kedua buku itu sangat fenomenal di kalangan pebisnis. Banyak penulis yang mengembangkan pemikiran dia, salah satunya Made to Stick-nya David & Minter. David & Minter mengembangkan perihal kelekatan sebuah gagasan, dimana Gladwell memasukannya sebagai salah satu unsur terjadinya Tipping Point.

Dalam buku ini juga membahas tentang kultur yang membangun kesukesan. Bagaimana kultur yang hirarkis di Korea mempengaruhi 'kesuksesan'. Kenapa orang asia khususnya Jepang pintar dalam matematika... Well, langsung aja deh kita simak wawancara dia soal buku Outliers-nya dengan Fortune Magazine:

Malcolm Gladwell
Secrets of their success
What separates the legendary CEO from the chronically dissatisfied cubicle dweller? It's not innate talent, argues Tipping Point author Malcolm Gladwell in his new book.

By Jennifer Reingold, senior writer
LAST UPDATED: NOVEMBER 12, 2008: 12:52 PM ET

(Fortune Magazine) -- In the business world, managing talent is one of those topics that are both overanalyzed and misunderstood. What separates the legendary CEO from the chronically dissatisfied cubicle dweller?

In his provocative new book, Outliers: The Story of Success (Little Brown), Malcolm Gladwell makes the case that the answer isn't innate talent. New Yorker writer Gladwell, also author of The Tipping Point and Blink, sat down with Fortune to talk about Bill Gates' lucky break, why Asians are good at math, and why some of us aren't destined for success - but still can make it big.

Fortune: What exactly is an outlier?

Gladwell: It's a technical term for a phenomenon that is outside normal experience. Scientists use it all the time when they are graphing data. You've got a nice little bell curve, and then you have a couple of things that are way out here. Well, this book is about people who are way out there.

F: How did you become interested in this topic?

G: I was interested in writing about success. I just became convinced that our explanations [of what drives it] were lacking. We have the kind of self-made-man myth, which says that super-successful people did it themselves. And we have a series of other beliefs that say that our personality, our intelligence, all of our innate characteristics are the primary driving force. It's that cluster of things that I don't agree with.

The premise of this book is that you can learn a lot more about success by looking around at the successful person, at what culture they belong to, what their parents did for a living. Successful people are people who have made the most of a series of gifts that have been given to them by their culture or their history, by their generation.

F: Talk about Bill Gates. The mythology is that he was spontaneously drawn to computers. But you say that's not the case.

G: Bill Gates has this utterly extraordinary series of opportunities. When he's 13, it's 1969. He shows up at his private school in Seattle, and they have a computer room with a teletype machine that is hooked up to a mainframe downtown. Anyone who was playing on the teletype machine could do real-time programming. Ninety-nine percent of the universities in America in 1969 did not have that.

Then, when he was 15 or so, classmate Paul Allen learned that there was a mainframe at the University of Washington that was not being used between two and six every morning. So they would get up at 1:30 in the morning, walk a mile, and program for four hours. When Gates is 20, he has as much experience as people who have spent their entire lives being programmers. He has this incredible headstart.

F: What link does practice have to success?

G: The 10,000-hours rule says that if you look at any kind of cognitively complex field, from playing chess to being a neurosurgeon, we see this incredibly consistent pattern that you cannot be good at that unless you practice for 10,000 hours, which is roughly ten years, if you think about four hours a day.

F: You also talk a lot about culture. How does it affect math skills, for example?

G: We give kids from around the world the same set of math tests, and every time we get the same results: America is just below average, and then at the very, very top are Singapore, Hong Kong, Japan, South Korea, and Taiwan. It occurs again and again.

There's an ultimately unconvincing argument that this has to do with IQ. I think what it has to do with is culture. Asian culture has a profoundly different relationship to work. It rewards people who are persistent.

Take a random group of 8-year-old American and Japanese kids, give them all a really, really hard math problem, and start a stopwatch. The American kids will give up after 30, 40 seconds. If you let the test run for 15 minutes, the Japanese kids will not have given up. You have to take it away.

I argue that this has to do with the kind of agriculture pursued in the West and the East going back thousands of years. I have ancestors who were peasant farmers in Western Europe in the Middle Ages. They probably worked 1,000 hours a year, if that. In the winter, they slept. They drank a lot of beer.

These Asian cultures are all wet-rice agricultural economies. Growing rice is this extraordinarily complex, labor-intensive activity that requires not just physical engagement but mental engagement. So a farmer in 14th-century Japan or 14th-century China was working 3,000 hours a year - three times longer. I know it sounds hard to believe, but habits laid down by our ancestors persist even after the conditions that created those habits have gone away.
Stepping Stone
F: You share a fascinating story about culture and airline safety.

G: Korean Air had more plane crashes than almost any other airline in the world for a period at the end of the 1990s. When we think of airline crashes, we think, Oh, they must have had old planes. They must have had badly trained pilots. No. What they were struggling with was a cultural legacy, that Korean culture is hierarchical. You are obliged to be deferential toward your elders and superiors in a way that would be unimaginable in the U.S.

But Boeing (BA, Fortune 500) and Airbus design modern, complex airplanes to be flown by two equals. That works beautifully in low-power-distance cultures [like the U.S., where hierarchies aren't as relevant]. But in cultures that have high power distance, it's very difficult.

I use the case study of a very famous plane crash in Guam of Korean Air. They're flying along, and they run into a little bit of trouble, the weather's bad. The pilot makes an error, and the co-pilot doesn't correct him. But once Korean Air figured out that their problem was cultural, they fixed it.


F: So let's broaden this out. Are there lessons in this book that are applicable to the business world?

G: Yes. Instead of thinking about talent as something that you acquire, talent should be thought of as something that you develop. Procter & Gamble (PG, Fortune 500) is a great example of a company that does that and has prospered as a result. Look around Wall Street, or what's left of it today, and you'll see lots and lots and lots of people from Goldman Sachs (GS, Fortune 500). That's not a coincidence. It's because they took their mission to invest in people seriously.

F: Should people be expected to take the issue of developing talent seriously right now, in the middle of a crisis?

G: Paradoxically, this might be the perfect time. When it's easy to make money, you have no incentive to think about development of talent. Now, you're forced to. At least that's my optimistic hope. 

FIRST PUBLISHED: NOVEMBER 12, 2008: 5:55 AM ET